Cari Blog Ini

Senin, 11 Mei 2026

CARA BAYAR FIDYAH MAYIT

 CARA BAYAR FIDYAH MAYIT

* Untuk mayit yang jelas - jelas tidak pernah sholat, maka kita ambil kemungkinan terburuknya, yaitu mulai ia umur 15 tahun. Jika meninggalnya di usia 50 tahun, maka tebusan yang harus dikeluarkan adalah sebanyak sholat selama 35 tahun. 

1 sholat = 7 ons

5 Sholat = 3,5 kg

1 hari = 3,5 kg

1 bulan = 105 kg ( 1 kwintal lebih 5 kg) 

1 tahun = 1.260 kg ( 1 ton + 2 kwintal + 60 kg) 

35 tahun = 44.100 kg (44 ton + 1 kwintal) 

Maka beras yang harus dikeluarkan adalah 44 ton lebih 1 kwintal. Dan ini jelas akan memberatkan.


Terus bagaimana caranya supaya agak ringan? 

Cukup siapkan beras 105 kg kemudian diputar hingga mencapai 44.100 kg. Dengan cara mengundang 12 fakir miskin untuk memutar beras tersebut sebanyak 35 kali putaran (((105 x 12) x 35) = 44.100 kg) 


TUHFATUL MUHTAJ Juz. 3 Hal. 440

Maktabah Syameel

( ولو مات وعليه صلاة أو اعتكاف لم يفعل عنه ولا فدية ) تجزئ عنه لعدم ورود ذلك ( وفي الاعتكاف قول ) إنه يفعل عنه كالصوم ( والله أعلم ) وفي الصلاة أيضا قول : إنها تفعل عنه أوصى بها أم لا حكاه العبادي عن الشافعي وغيره عن إسحاق وعطاء لخبر فيه لكنه معلول بل نقل ابن برهان عن القديم أنه يلزم الولي أي : إن خلف تركة أن يصلي عنه كالصوم ووجه عليه كثيرون من أصحابنا أنه يطعم عن كل صلاة مدا واختار جمع من محققي المتأخرين الأول وفعل به السبكي عن بعض أقاربه وبما تقرر يعلم أن

Selasa, 21 April 2026

RUMAH SAKIT NU


 Layanan Kesehatan Berkualitas di Sekitar Kita 🏥

​Sahabat NU, kesehatan adalah aset yang tak ternilai. Untuk melayani kebutuhan medis warga Nahdliyin dan masyarakat umum, berikut adalah daftar Rumah Sakit di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang berada di wilayah Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik:


​📍 Wilayah Surabaya:

​RS Islam Surabaya Jemursari

​RS Islam Surabaya A. Yani

​RS Islam Darus Syifa’ Surabaya


​📍 Wilayah Sidoarjo:

​RS Islam Siti Hajar Sidoarjo


​📍 Wilayah Gresik:

​RS Islam Nyai Ageng Pinatih Gresik

​RS Islam Mabarrot MWC NU Bungah Gresik


​Semoga informasi ini bermanfaat bagi kita semua. Jangan lupa simpan (save) dan bagikan ke keluarga atau kerabat yang membutuhkan!




​#NahdlatulUama #RumahSakitNU #LayananKesehatan

Senin, 09 Februari 2026

AN-IN-UN


 Seni "Masa Bodoh" Demi Kewarasan Jiwa


إِذَا الْكَلْبُ لَمْ يُؤْذِيكَ إِلَّا نِبَاحُهُ ... فَدَعْهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ يَنْبَحُ

"Jika anjing itu tidak menyakitimu kecuali (hanya) dengan gonggongannya... maka biarkanlah ia menggonggong hingga hari kiamat."


Pepatah ini mengajarkan hierarki respon terhadap gangguan.

• ​Anjing = Gangguan eksternal (haters, komentar negatif, gosip, atau masalah sepele).

• ​Gonggongan = Noise (suara bising) yang tidak memiliki dampak fisik. Tidak melukai kulit, tidak mengurangi rezeki.

• ​Biarkan = Puncak pengendalian diri. Kita tidak membuang energi untuk melempar batu balik, karena tujuan kita adalah "berjalan", bukan "berkelahi dengan anjing".


​Konsep ini adalah penerapan nyata dari Teknik Neuro Meditasi (sebuah konsep meditasi integratif yang sedang saya kembangkan) yaitu prinsip "Jangan Dilawan". Sama seperti anjing, jika dilawan atau diteriaki, ia justru akan menggonggong makin keras.


"AKUI keberadaannya, TERIMA, lalu KEMBALI ke napas".


Ini sama dengan sikap: "Oh, ada anjing menggonggong (Akui). Biarkan saja dia menggonggong (Terima). Saya lanjut jalan (Kembali ke tujuan)."


​Mengapa Mengabaikan Itu Menyehatkan?

​Dalam dunia medis dan psikologi, sikap ini dikenal dengan beberapa istilah ilmiah:


​A. At-Taghaful (Psikologi Islam)

​Konsep At-Taghaful (pura-pura tidak tahu demi kebaikan) adalah mekanisme pertahanan diri yang matang untuk menjaga Qalb (hati) tetap bening dari polusi emosi.


​B. The Gray Rock Method (Psikologi Perilaku)

​Ini adalah teknik menghadapi orang toksik/narsistik. Dengan menjadi "batu kelabu" (tidak merespons, membosankan, tidak peduli), sirkuit dopamin (kepuasan) di otak pengganggu tidak terpenuhi. Karena tidak ada reaksi ("suplai"), gonggongan itu akhirnya berhenti dengan sendirinya (prinsip Extinction dalam Behavioral Conditioning).


​C. Regulasi Amigdala (Neurosains)

​Merespons "gonggongan" berarti mengizinkan Amigdala (pusat emosi primitif) membajak otak. Tubuh akan memproduksi kortisol (hormon stres).

Dengan memilih untuk "membiarkan", Anda mengaktifkan Prefrontal Cortex (otak rasional). Anda memberitahu tubuh: "Ini cuma suara, bukan ancaman nyawa. Tidak perlu mode perang." Hasilnya? Detak jantung stabil, kulit tidak meradang, dan pikiran tetap jernih.


Referensi :

​Al-Balkhi, Abu Zayd (Abad ke-9 M). Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Sustenance of the Body and Soul).

​Penjelasan: Al-Balkhi adalah pelopor psikomatik yang menjelaskan bahwa obsesi terhadap gangguan kecil dapat menyebabkan penyakit fisik. Solusinya adalah pengabaian kognitif.


​Gross, J. J. (2002). "Emotion regulation: Affective, cognitive, and social consequences." Psychophysiology, 39(3), 281-291.

​Penjelasan: Jurnal ini membuktikan bahwa strategi Reappraisal (menilai ulang gonggongan sebagai sekadar suara) jauh lebih sehat secara kardiovaskular daripada menahan amarah.


​Sapolsky, R. M. (2004). Why Zebras Don't Get Ulcers. New York: Henry Holt and Co.

​Penjelasan: Menjelaskan bahwa manusia sering sakit karena mengaktifkan respon stres untuk hal-hal sosial (seperti hinaan/gonggongan) yang sebenarnya tidak mengancam nyawa fisik.

​Baumeister, R. F., Bratslavsky, E., Finkenauer, C., & Vohs, K. D. (2001). "Bad is stronger than good." Review of General Psychology, 5(4), 323–370.

​Penjelasan: Menjelaskan mengapa satu gonggongan terasa sangat mengganggu dibanding seribu pujian, dan mengapa kita butuh upaya sadar (meditasi) untuk mengabaikannya.


By. an-in-un

Sabtu, 24 Januari 2026

Tips Menjadi Guru Berwibawa


 Tips Menjadi Guru Berwibawa (Tanpa Harus Galak)


1. Tegas di aturan, lembut di sikap

Wibawa lahir dari konsistensi. Aturan jelas sejak awal, ditegakkan dengan tenang—bukan emosi.


2. Ucapan sejalan dengan tindakan

Kalau guru minta disiplin tapi sering telat, wibawa langsung turun. Murid lebih cepat menilai dari contoh, bukan nasihat.


3. Kuasai kelas, bukan teriak di kelas

Kontrol kelas itu soal strategi: posisi berdiri, kontak mata, jeda bicara. Diam yang tepat kadang lebih “menampar” daripada marah.


4. Adil ke semua murid

Tidak pilih kasih, tidak membeda-bedakan. Murid sangat peka soal keadilan—di sinilah wibawa naik atau runtuh.


5. Tegur perilaku, bukan harga diri

Salah tetap ditegur, tapi jangan merendahkan. Murid yang dihargai justru lebih patuh.


6. Punya batas yang jelas

Ramah boleh, bercanda boleh, tapi tetap ada jarak profesional. Terlalu “akrab” tanpa batas sering bikin murid kurang hormat.


7. Percaya diri dengan peran sebagai guru

Tidak perlu merasa rendah di depan murid. Berdiri sebagai pendidik, bukan minta disukai.


8. Konsisten hari ini, besok, dan seterusnya

Wibawa bukan dibangun sehari. Tapi dari sikap yang sama, terus-menerus.


9. Tenang saat ditekan

Guru yang tidak mudah terpancing emosi justru terlihat lebih kuat di mata murid.


10. Tulus mendidik, bukan sekadar mengajar

Murid bisa merasakan mana guru yang peduli dan mana yang sekadar menggugurkan jam.


Intinya:

Guru berwibawa itu bukan yang ditakuti, tapi dihormati. Ini bisa dicoba buat kita semua, mengajar yang benar2 butuh tenaga ekstra. 



#Guru Hebat Mendunia


Rabu, 26 November 2025

Menyederhanakan NU


Menyederhanakan NU


Kisruh dan dinamika internal PBNU belakangan ini seperti membuka kembali lembaran lama tentang betapa rentannya jam’iyyah ketika struktur kepemimpinan melebar tanpa kejelasan garis komando. Semua pihak merasa memiliki legitimasi—Rais ‘Aam dipilih Muktamar, Ketua Umum juga dipilih Muktamar. Keduanya merasa memegang mandat langsung dari jama’ah, dan di titik inilah roda organisasi mulai tersendat, bahkan berhenti berbulan-bulan.


Dari sini, muncul satu kebutuhan mendesak: menyederhanakan NU.


1. Menata Ulang Struktur Puncak Jam’iyyah


Sudah saatnya NU mempertimbangkan model yang lebih ringkas dan jelas. Pada Muktamar mendatang, posisi yang dipilih langsung oleh Muktamar mungkin cukup Rais ‘Aam saja. Setelah itu, Rais ‘Aam terpilih diberi mandat untuk menunjuk Ketua Umum, bukan melalui kontestasi terbuka.


Model ini menyelesaikan dua persoalan sekaligus:


- Tidak ada lagi dualisme dua figur yang sama-sama merasa dipilih Muktamar;

- Konsolidasi Syuriyah dan Tanfidziyah menjadi lebih stabil karena Ketua Umum berangkat dari amanah Rais ‘Aam, bukan menjadi “kutub” tandingan.


NU berdiri di atas hikmah tatanan ulama; bukan pertempuran kuasa yang menggerus marwah jam’iyyah.


2. Kemandirian Ekonomi PBNU


Namun inti persoalan jauh lebih dalam dari sekadar struktur. NU perlu mandiri secara ekonomi. Kemandirian ini dimulai dari titik yang paling awal dan paling simbolis: Muktamar.


Muktamar NU harus kembali sederhana, bersahaja, dan berbasis swadaya. Tidak perlu tiket, tidak perlu sangu, tidak perlu fasilitas mewah—apalagi private jet atau charter pesawat oleh pihak ketiga. Semua itu hanya melahirkan ketergantungan, pembelokan loyalitas, dan kooptasi kepentingan yang tidak pernah menguntungkan jama’ah.


Biarlah delegasi PCNU, PCINU, dan PWNU yang hadir datang dengan biaya hasil urunan anggota masing-masing. Muktamar bukan pesta akbar; ini forum musyawarah agama, bukan panggung promosi kandidat atau pertunjukan kemewahan yang bertolak belakang dengan akar tradisi NU. 


Muktamar dilaksanakan dengan biaya sendiri, tanpa sumbangan pihak luar. Kita selenggarakan Muktamar sesederhana mungkin. 


Jika Muktamar bersih dari ongkos politik, maka kita dapat memilih pemimpin yang memang layak, bukan yang paling banyak menutupi biaya. Kualitas melampaui modal. Integritas lebih tinggi dari lobi.


3. Mengembalikan NU ke Nafas Awal


NU berdiri dari kultur kesederhanaan para kiai kampung: mengajar, membimbing, mengayomi umat dengan apa adanya. Tidak ada glamor. Tidak ada transaksi.


Menyederhanakan NU artinya mengembalikan napas itu:


 • struktur yang jelas,

 • manajemen yang rapi,

 • ekonomi mandiri,

 • dan Muktamar yang kembali menjadi ruang suci musyawarah, bukan medan kontestasi pragmatis.


Dengan begitu, jam’iyyah ini bisa pulih dari sakitnya, kembali berjalan, dan memberi arah nyata bagi jama’ah yang selama ini tetap bergerak meski rumah besarnya sedang retak.


NU terlalu besar untuk dibiarkan kacau, dan terlalu mulia untuk dibiarkan diseret oleh kepentingan jangka pendek. Menyederhanakan NU bukan kemunduran: justru itulah satu-satunya jalan untuk melangkah maju.


Tabik,


Nadirsyah Hosen

Senin, 24 November 2025

Selamat Hari Guru Nasional I 25 November 2025

 

·       #Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2025



Hari Guru Nasional adalah momen untuk menghormati dan mengucapkan terima kasih kepada para guru atas segala dedikasi dan pengorbanannya dalam mendidik dan membimbing siswa.

·       Guru berperan strategis dalam membentuk karakter, membangun pengetahuan, dan mendorong kemajuan masyarakat melalui proses pendidikan.

·       Guru adalah pilar dalam menyiapkan generasi yang berkualitas, berkarakter kuat, dan mampu bersaing di era global, serta siap menghadapi tantangan di masa depan.

·       Hari ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya profesionalisme guru dan kebutuhan untuk terus mendukung pengembangan kompetensi mereka agar sejalan dengan perkembangan zaman.

·       Guru tidak hanya dilihat sebagai pelaksana teknis, melainkan sebagai arsitek peradaban baru yang menyatukan kecerdasan manusia dan teknologi untuk menciptakan masa depan Indonesia yang lebih baik. 

Semuga Para guru-guru kami di berikan kesehatan tuk terus semangat dalam membimbing kami....!!!